Kemarau 2018, Kekeringan Ancam Sejumlah Wilayah Indonesia

Criteria 1
5
Criteria 2
5
Criteria 3
5
Memasuki akhir Juli, suhu udara di Jakarta semakin panas bahkan bisa mencapai 33 derajat celsius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus dan September 2018. Dan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sejauh ini BMKG memperkirakan musim kemarau normal dan tidak dipengaruhi El
5

Memasuki akhir Juli, suhu udara di Jakarta semakin panas bahkan bisa mencapai 33 derajat celsius.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus dan September 2018. Dan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sejauh ini BMKG memperkirakan musim kemarau normal dan tidak dipengaruhi El Nino yang menyebabkan kekeringan parah seperti pada 2015.

Meski tidak diiringi El Nino atau anomali suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik ekuator yang membawa dampak kekeringan di Indonesia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan musim kemarau di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Monsun Australia.

“Untuk wilayah Indonesia yang paling berpengaruh menyebabkan musim kemarau adalah angin Monsun Australia atau orang sering menyebutnya angin timuran,” katanya seperti dilansir Antara, Senin (23/7).

Ia memaparkan saat matahari berada di utara equator, yaitu pada April, Mei, Juni, Juli, dan Agustus, maka wilayah di sebelah utara equator memiliki tekanan lebih rendah daripada wilayah selatan equator.

Akibat dari peristiwa tersebut, maka angin akan bergerak dari wilayah selatan equator, yaitu Australia menuju utara (Asia). Angin ini sering dikenal dengan nama angin Monsun Australia.

Angin timuran itu membawa massa udara yang bersifat kering dan dingin sehingga wilayah di Indonesia mengalami musim kemarau.

Untuk mengetahui kapan suatu daerah memasuki musim kemarau, jika hujan yang turun di daerah tersebut dalam dua dasarian rata-rata kurang dari 50 mm atau dalam satu bulan kurang dari 150 mm.

“Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Di awal dan menjelang akhir musim kemarau biasanya masih ada cukup hujan, namun kalau diukur dalam sebulan jumlahnya kurang dari 150 mm,” katanya.

Sementara itu, puncak musim kemarau adalah bulan di mana hujan yang turun paling minimum, sering nol mm atau dalam satu bulan tidak ada hujan sama sekali.

Dan, suatu daerah dinyatakan mengalami musim kemarau ekstrem jika mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Seperti di Sape, Nusa Tenggara Barat tidak mengalami hujan selama 112 hari disusul Wulandoni NTT selama 103 hari, Bali 102 hari, Kawah Ijen Jawa Timur 101 hari, Bangsri Jawa Tengah 92 hari, Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Lendah dan Srandakan selama 82 hari.

Daerah lain juga perlu mewaspadai ancaman kekeringan karena hanya memiliki curah hujan rendah di bawah 55 milimeter yaitu sebagian besar Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Maluku Utara, bagian selatan Papua Barat, dan Papua sekitar Merauke.

Di sejumlah daerah yang sudah lebih dari sebulan terakhir tak turun hujan mengalami kekeringan seperti beberapa kabupaten di Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Yogyakarta.

Akibat kekeringan tersebut, masyarakat mulai sulit memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari karena air di sumur-sumur warga mulai mengering.

Seperti masyarakat di sejumlah desa di kawasan pesisir Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mulai kesulitan air bersih akibat kekeringan yang melanda kawasan tersebut. Sumber air, seperti sumur dan danau mengering, sedangkan air sungai berasa asin akibat intrusi air laut.

Sementara itu di wilayah Krangkeng, Kabupaten Indramayu bahkan warga memanfaatkan cadangan air yang terdapat di kubangan.

Di Yogyakarta hingga akhir pekan lalu sudah sebanyak 119 tangki air bersih telah didistribusikan untuk mengatasi dampak kekeringan di sejumlah wilayah tersebut.

“Sampai dengan 19 Juli, sebanyak 119 tangki air bersih dari sumber dana APBN telah didistribusikan ke Gunungkidul, Kulon Progo dan Bantul,” kata Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial Margowiyono yang dihubungi dari Jakarta, Minggu.

Margowiyono mengatakan, total bantuan distribusi air tahun 2018 sebesar 1.000 tangki terdiri atas 500 tangki dari APBD dan 500 tangki lainnya dari APBN dengan kapasitas setiap tangki sebanyak 5.000 liter.

Sementara itu, warga-warga di Cicalengka, Kabupaten Bandung harus merogoh kocek bervariasi demi membeli air besih.

“Sumur di musim kemarau kering, ini juga sudah banyak yang kering,” kata Sari, seorang warga yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih di Kompleks Pamoyanan, Desa Panenjoan, Cicalengka, Kabupaten Bandung di Bandung, Minggu dikutip dari Antara.

Ia menuturkan kondisi kesulitan air bersih sudah berlangsung cukup lama. Apalagi, saat musim kemarau, air sumur maupun pompa milik warga, sudah tidak ada airnya.

Sejumlah warga, kata dia, terpaksa harus membeli dari penjual air bersih yang biasa keliling perumahan dengan harga Rp20 ribu untuk memenuhi kebutuhan mandi, memasak, mencuci pakaian, maupun perabotan rumah.

“Kalau saya setiap hari beli air, harganya Rp20 ribu, sehari bisa habis delapan ‘kompan’ (jerigen), kalau lagi nyuci bisa 12 ‘kompan’,” katanya.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *