Sejarah Gempa dan Tsunami Hantam Donggala-Palu, Terdahsyat pada 1938

Criteria 1
5
Criteria 2
5
Criteria 3
5
Gempa dan tsunami menghantam Donggala serta Palu, Sulawesi Tengah, sehingga menyebabkan ratusan orang meninggal dunia. Ini bukan pertama kali gempa dan tsunami terjadi, baik di Donggala maupun Palu. Lokasinya yang berada di Sesar Palu-Koro menjadikan wilayah itu rawan gempa dan tsunami. Dari data yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa pernah terjadi di Teluk
5

Gempa dan tsunami menghantam Donggala serta Palu, Sulawesi Tengah, sehingga menyebabkan ratusan orang meninggal dunia. Ini bukan pertama kali gempa dan tsunami terjadi, baik di Donggala maupun Palu. Lokasinya yang berada di Sesar Palu-Koro menjadikan wilayah itu rawan gempa dan tsunami.

Dari data yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa pernah terjadi di Teluk Palu pada 1 Desember 1927. Akibat gempa, 14 orang meninggal dan 50 lainnya luka-luka.

Kemudian pada 30 Januari 1930, tsunami menerjang pantai barat Donggala. Tinggi tsunami mencapai lebih dari 2 meter selama 2 menit. Delapan tahun kemudian, tepatnya 14 Agustus 1938, tsunami kembali menerjang Teluk Bambu, Kecamatan Balaesang, Donggala.

“Ketinggian tsunami mencapai 8 hingga 10 meter, 200 korban meninggal dunia, 790 rumah rusak, seluruh desa di pesisir barat Donggala hampir tenggelam. Ini yang terdahsyat,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (29/9/2018).

Tsunami juga menyapu pantai barat Donggala dan Toli-Toli pada 1 Januari 1966. Terjangan tsunami setinggi 4 meter menyebabkan 9 orang meninggal dunia. Lalu, pada 11 Oktober 1998, gempa juga terjadi di Donggala. Ratusan bangunan rusak parah.

“Pada 17 November 2008 terjadi di Laut Sulawesi. Empat jiwa meninggal dunia dan 18 Agustus 2012 di Kabupaten Sigi dan Parigi Montong sebanyak 8 orang meninggal dunia,” kata Sutopo.

Pada Jumat (28/9/2018), tsunami terjadi di Palu. Pemicunya adalah longsoran sedimen di dasar laut akibat gempa 7,4 SR yang mengguncang Donggala.

“Kenapa terjadi tsunami cukup besar, kami telah melakukan koordinasi dengan beberapa ahli tsunami ada 2 penyebab. Pertama, di Teluk Palu, yang kalau berdasarkan video tsunami menerjang cukup tinggi, ini disebabkan ada longsoran sedimen dasar laut kedalaman 200-300 meter,” jelas Sutopo.

Lokasi Donggala dan Palu yang berada di sesar (patahan) Palu-Koro memang menjadi wilayah yang rawan terjadinya gempa dan tsunami. Patahan ini merupakan patahan dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia setelah patahan Yapen di Papua Barat. Pergerakan patahan Palu-Koro mencapai 46 mm per tahun.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *